Mengantisipasi dan Menangani Krisis

Salam hangat untuk rekan-rekan anggota PERHUMAS semua. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan gagasan saya mengenai krisis dan bagaimana kita menanganinya manakala terjadi dalam organisasi kita. Krisis merupakan masa gawat yang bisa timbul sejalan dengan dinamika perjalanan sebuah organisasi.

Sementara ada pihak mencoba membuat anatomi krisis. Tahap awal atau yang disebut dengan prodromalantara lain ditandai dengan muncul berbagai ‘signal’ yang menuntut anggota organisasi untuk tanggap. Sayangnya, berbagai masalah yang muncul pada tahap itu, cenderung dilupakan, karena perusahaan masih dianggap lincah. Timbulnya “keresahan” di kalangan karyawan, misalnya saja menuntut kenaikan gaji, atau muncul peraturan pemerintah, bisa saja melahirkan persoalan baru bagi perusahaan. Sesungguhnya, bila situasi-situasi seperti ini tidak bisa diatasi, maka perusahaan bisa terjerumus pada persoalan-persoalan yang lebih rumit.

Kedua yang disebut dengan tahap akut. Para pengelola perusahaan ketika mengalami situasi seperti ini, mulai berteriak: telah terjadi krisis…!. Padahal, sesungguhnya, cikal bakal krisis sudah terjadi pada tahap sebelumnya (prodromal). Pada tahap akut, seiring dengan berbagai permasalahan yang terjadi pada organisasi, kecepatan dan intensitas masalah yang melanda semakin cepat, bahkan nyaris tidak teratasi.

Selanjutnya, tahap kronis, adalah tahap dimana badai yang terjadi perlahan mulai reda. Bila krisis itu diibaratkan reruntuhan bangunan, maka kita kemudian akan menemukan puing-puing reruntuhan. Keempat adalah tahap tahap resolusi (penyembuhan). Permasalahan yang terjadi mungkin sudah diatasi namun masih tersisa berbagai rasa sakit walau dalam intentistas yang kecil dan ringan.

Lalu, bagaimana krisis itu ditangani? Ada serangkaian langkah yang bisa ditempuh; pertama, melakukanIdentifikasi terhadap krisis. Tindakan identifikasi hanya bisa dilakukan selama kita memiliki fakta dan data yang akurat, lengkap dan jelas. Darimanakah itu? Tidak ada cara lain, adalah melalui kemampuan observasi yang didukung kemampuan riset yang baik. Mirip seorang dokter, guna mendapatkan gambaran utuh mengenai penyakit pasien, mau tidak mau, ia harus memiliki kemampuan melakukan diagnosa yang baik pula. Dengan berbekal data, fakta dan informasi yang dikumpulkan itu maka kita bisa beranjak pasti menuju langkah berikutnya yaitu menganalisis krisis. Data dan fakta yang dikumpulkan pada tahap identifikasi akan menjadi materi yang lengkap untuk menganalisis berbagai penyebab krisis. Praktisi Humas bisa mendapatkan gambaran mengenai situasi yang terjadi sebelum pada akhirnya menemukan solusi atas masalah mengkomunikasikan kepada publik.

Mengisolasi krisis, merupakan tahap yang tidak kalah penting. Ini dilakukan agar krisis yang sudah terjadi tidak menimbulkan rentetan masalah lain. Mengisolasi krisis tidaklah berarti menutup-nutupi fakta atau berbohong kepada publik. Seorang praktisi Humas perlu memberikan saran dan masukan kepada pimpinan untuk melakukan komunikasi yang efektif dan efisien baik secara internal maupun eksternal organisasi agar krisis itu biasa diisolasi. Tahap selanjutnya yang juga tidak kalah penting adalah menentukan strategisecara generik. Sebelum melakukan langkah-langkah komunikasi untuk mengendalikan krisis, organisasi perlu melakukan penetapan strategi secara generik yang ditempuh dengan strategi defensif misalnya dengan mengulur waktu, strategi adaptif; dengan mengubah kebijakan termasuk kompromi atau strategi dinamis yang sifatnya sangat makro misalnya menggandeng kekuasaan, melakukan investasi baru, merger dan akuisisi,dll. Terakhir adalah program pengendalian. Ini adalah tahap yang ditempuh menyusul strategi generik yang telah dirumuskan. Dengan berbagai upaya itu mudah-mudahan krisis bisa berlalu dan diatas dengan baik.Mudah-mudahan.

Salam,
Prita Kemal Gani, MBA.,MCIPR.,AIPR
Ketua Umum BPP PERHUMAS

Sumber: Warta PERHUMAS, 5 April 2013
Didokumentasikan oleh Humas dan Protokoler UNIKOM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *