Memaknai Corporate Identity

Konsep corporate identity, menjadi salah satu unit kompetensi inti, yang wajib dikuasai oleh seluruh praktisi humas. Mengapa hal ini penting?

Biasanya, bila mendengar kata identity (identitas), kita serentak mengasosiasikannya dengan diri manusia. Identitas merupakan gambaran informatif tentang seseorang yang menyangkut berbagai hal: gender, suku, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, status perkawinan dan sebagainya. Berbagai informasi tentang dirinya akan menunjukkan siapa dia sesungguhnya, akan memungkinkan pula membedakan dari manusia lainnya. Singkat kata, identitas itu akan mempengaruhi citra dirinya. Sebuah organisasi, seperti halnya manusia, membutuhkan identitas yang jelas. Identitas yang dimiliki sebuah organisasi pada gilirannya akan menentukan citra organisasi, di mata public/stakeholders.

Lantas, apa yang dimaksudkan dengan corporate identity? Rossiter dan Percy, keduanya pakar pemasaran dan manajemen, mengemukakan, identitas perusahaan mengacu kepada bagaimana organisasi atau perusahaan itu mempresentasikan dirinya secara visual melalui nama, logo, simbol, laporan tahunan, seragam, kendaraan, kemasan dan simbol visual lainnya. Namun, sejatinya, corporate identity tidak hanya bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat visual semata. Karena itu, Susan Wescott Alessandri (2001) seorang pakar komunikasi dari Suffolk University yang secara serius dan konsisten melakukan penelitian tentang corporate identity, merancang suatu model yang bisa menjelaskan, proses kerja sebuah corporate identity. Dikatakan Alessandri, corporate identity itu dipengaruhi oleh apa yang disebut dengan misi organisasi, yang merujuk pada filosofi perusahaan, yang berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut perusahaan. Misi dipersonifikasi melalui identitas yang terbagi menjadi dua yakni: perilaku dan aspek visual perusahaan/organisasi.

Publik, apakah itu konsumen, karyawan, media atau siapapun yang berkepentingan, mencitrakan suatu perusahaan atau organisasi, tatkala mereka berinteraksi atau memiliki pengalaman langsung dengan identitas perusahaan. Selebihnya, mayoritas publik membentuk persepsi mengenai perusahaan/organisasi melalui identitas visual perusahaan, seperti logo, warna, slogan dan sebagainya.

Baik perilaku maupun identitas visual perusahaan haruslah seragam dan saling melengkapi. Komponen perilaku dan visual dari identitas perusahaan mencakup banyak hal, yang pada gilirannya membedakan satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Komponen perilaku perusahaan meliputi: pelayanan terhadap konsumen; kebijakan untuk pegawai perusahaan; keterlibatan dengan komunitas setempat; sejarah perusahaan.

Dengan demikian, bila sebuah perusahaan/organisasi menampilkan slogan, misalkan, “melayani dengan senyum” atau “menyelesaikan masalah dengan cepat dan tuntas”, namun, temuan di lapangan menunjukkan fakta lain, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut tidak melaksanakan perilaku yang seharusnya dilakukan. Pengalaman publik, sebagaimana dikatakan di atas, akan membangun persepsi buruk terhadap perusahaan itu.

Lalu, bagaimana kaitan dengan peran Humas? Sebagai suatu fungsi manajemen, tugas Humas sangat berat. Antara lain, bagaimana mengkomunikasikan program corporate identity kepada seluruh komponen stakeholders, sehingga pada akhirnya mereka mengetahui berbagai hal yang terkait dengan program corporate identity. Citra perusahaan pun akan terbentuk.

Salam,
Prita Kemal Gani,MBA.,MCIPR.,AIPR
Ketua Umum BPP PERHUMAS

Sumber: Warta PERHUMAS, 31 Juni 2013
Didokumentasikan oleh Humas dan Protokoler UNIKOM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *