Memahami Budaya Organisasi

Salam jumpa untuk teman-teman semua. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pandangan saya mengenai budaya organisasi berikut implikasi pentingnya bagi para praktisi Humas. Budaya organisasi tentu tidak hanya berkaitan dengan logo atau gambar yang bersifat visual yang ditampilkan dalam kegiatan komunikasi internal maupun eksternal. Bukan pula sebatas peraturan yang berlaku dan diterapkan pada suatu organisasi, baik sosial maupun bisnis. Budaya organisasi berbicara mengenai hal yang paling strategis bagi organisasi. Lantas apa yang dimaksudkan dengan budaya organisasi?

Dalam berbagai literature komunikasi, ditegaskan, budaya organisasi merupakan pola dari asumsi dasar, yang telah ditentukan atau dikembangkan untuk mempelajari cara-cara berintegrasi, yang telah berfungsi dengan baik, yang telah dianggap baru.

Sebagai sebuah asumsi dasar dan menjadi acuan hidup berorganisasi, muncul dan berkembangnya budaya organisasi, bisa terwujud dari berbagai perspektif. Bisa jadi, budaya organisasi itu muncul dari pengalaman atau filosofi hidup sang pendiri atau perintis organisasi. Pengalaman atau filosofi hidup pendiri, menjadi pijakan bahkan referensi faktual yang berkontribusi penting dalam pembentukan budaya organisasi. Namun, bisa pula budaya organisasi muncul atas dasar tindakan manajemen puncak (top management).

Budaya organisasi bisa terwujud dalam tiga level. Pertama, yang bersifat artifacts (artefak) misalnya saja, dalam bentuk symbol, ritual, logo, warna, dan sebagainya. Kedua berkaitan dengan values (nilai-nilai). Hal ini berkaitan dengan apa yang seharusnya dan apa yang tidak boleh dilakukan. Aturan, kebijakan organisasi, merupakan contoh yang paling jelas untuk hal yang terkait dengan values. Ketiga, yang tidak kalah penting adalah berkaitan dengan assumptions (asumsi-asumsi) mendasar tentang manusia. Disini, bagaimana organisasi memposisikan manusia/anggota organisasi.

Bila dijalankan dengan baik, budaya organisasi memiliki fungsi yang luar biasa, antara lain mampu menunjukkan identitas antara satu organisasi dengan yang lainnya, mendorong stabilitas sistem sosial danmembantu mengikat kebersamaan organisasi dengan menyediakan standar-standar yang sesuai, mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan. Terakhir yang tidak kalah penting budaya bertugas sebagai pembentuk perilaku serta sikap karyawan.

Menjadi pertanyaan kemudian, apa implikasi semua ini bagi praktisi Humas? Praktisi Humas tentu tidak bisa berjalan terpisah dari pihak-pihak lain dalam organisasi. Ketika berkarya dan bergabung dengan suatu organisasi, praktisi Humas seharusnya mempelajari, mengenal sehingga pada akhirnya bisa memahami secara baik apa yang menjadi budaya organisasi yang dianut. Dengan demikian, aktivitas Humas sebagai fungsi manajemen bisa berjalan dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *