Manajemen Isu

Semua organisasi/perusahaan, selalu mengharapkan adanya dukungan positif dari publik. Dukungan itu, antara lain, terpancar dari informasi/cerita yang bergulir tentang aktivitas organisasi. Namun kenyataannya berbeda, karena karakteristik publik yang dihadapi beragam. Bisa jadi, hal itu mempengaruhi interpretasi dan pemahaman tentang organisasi. Kerap muncul informasi yang simpang siur, bahkan menyebar menjadi rumor/isu. Karena itu, organisasi mau tidak mau harus melakukan manajemen isu agar mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola berbagai isu yang muncul serta mempengaruhi aktivitas atau kelangsungan hidup suatu organisasi.

Dalam kajian organisasi, manajemen isu cenderung dilakukan banyak pendekatan, namun salah satu yang cukup populer adalah pendekatan terintegrasi (engagement approach), yang diperkenalkan Taylor,Vasques dan Doorley (2003). Pendekatan terintegrasi menegaskan, dialog aktif atau keterlibatan antara organisasi dan publik merupakan cara yang paling efektif dalam mengelola isu. Konsep terintegrasi (engagement) dalam konteks ini mengacu kepada pemahaman bahwa stakeholder relevan dipertimbangkan dan dilibatkan, dalam keputusan organsiasi.

Ada tiga asumsi penting yang berkaitan dengan pendekatan terintegrasi. Pertama, semua organisasi berusaha memaksimalkan hasil atau outcome mereka. Manajemen isu membantu organisasi tumbuh dan bertahan hidup karena memberikan organisasi alat untuk memaksimalkan peluang. Bagaimana pun kepentingan organisasi tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Oleh karena itu, pendekatan integrasi mengedepankan pemahaman, bahwa kepentingan organisasi dikontekstualisasikan oleh hubungan dengan beragam publiknya. Kedua, pendekatan integrasi yang menjelaskan kepentingan publik merupakan konsekuensi yang muncul dikarenakan asumsi pertama. Dalam pendekatan ini, publik dilihat sebagai sumber daya dengan mana organisasi bergantung. Ketiga, pendekatan integrasi menghargai nilai hubungan. Pendekatan terintegrasi merupakan pendekatan yang mengintegrasikan kepentingan organisasi dan public dan mencermati bagaimana proses komunikasi memainkan peran krusial dalam menyelesaikan isu.

Model proses manajemen isu berkaitan dengan lima tahapan penting yaitu: melakukan identifikasi terhadap isu, mencari tahu dari mana sumber isu itu bergulir dan isu apa yang relevan dengan organisasi kita. Langkah kedua berkaitan dengan pemetaan isu dimana dalam kegiatan ini, Humas perlu memberikan atau menentukan peringkat atas isu yang bergulir. Pemeringkatan isu dilakukan berdasarkan kepentingan isu yang bergulir tersebut. Tahap ketiga tentunya harus menyusun strategi pengelolaan isu. Apa yang harus dilakukan agar isu itu tidak justru berkembang menjadi persoalan yang merugikan organisasi. Dalam rangka ini perlu dilakukan perancangan pesan untuk mengelola isu tersebut, terkait pula dengan media yang akan digunakan. Keempat adalah menyangkut proses komunikasi atas isu tersebut. Bahwa isu yang negatif tentu harus ditanggulangi secara proporsional, sementara isu yang positif, harus dikembangkan secara baik. Terakhir, melakukan evaluasi atas kegiatan manajemen isu yang telah dilakukan. Kegiatan evaluasi dimaksudkan untuk mencaritahu apakah kegiatan tersebut sudah sesuai dengan perencanaan, dan kegiatan evaluasi pun penting untuk menentukan apa saja yang perlu direkomendasikan kepada pimpinan organisasi.

Salam,
Prita Kemal Gani,MBA.,MCIPR.,APR
Ketua Umum BPP PERHUMAS

Sumber: Warta PERHUMAS, 7 Juni 2013
Didokumentasikan oleh Humas dan Protokoler UNIKOM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *